Sabtu, 19 April 2014

Ronaldo Mengalami Sobek pada Otot?

 
Gelandang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, pada pertandingan leg pertama perempat final Liga Champions, melawan Borussia Dortmund, di Santiago Bernabeu, Rabu (2/4/2014).

Owetbara.com — Cristiano Ronaldo ditengarai akan absen selama dua pekan. Menurut laporan media Spanyol, seperti dikutip dari Football Espana, Kamis (10/4/2014), penyerang Real Madrid tersebut terpaksa menepi lantaran diduga mengalami sobek pada ototnya.

AS mengklaim kabar tersebut. AS menyatakan bahwa Ronaldo mengalami gangguan pada hamstring kirinya dan dia membutuhkan waktu 15 hari untuk pemulihan. Jika kabar itu benar, mantan pemain Manchester United tersebut dipastikan tidak bisa bermain ketika Madrid bertemu rival abadinya, Barcelona, di final Copa del Rey pada pekan depan.

Sejauh ini, belum ada konfirmasi dari kubu Madrid. Namun, dalam dua pertandingan terakhir, mantan pemain termahal dunia ini tidak bermain, yakni ketika El Real menaklukkan Real Sociedad di ajang La Liga pada akhir pekan lalu serta ketika Los Blancos kalah 0-2 dari Borussia Dortmund pada leg kedua babak perempat final Liga Champions, Selasa (8/4/2014).

Ronaldo pada awalnya didiagnosis mengalami peradangan otot. Namun, jika benar dia mengalami sobek pada otot, Ronaldo bukan hanya absen di final Copa del Rey, melainkan juga pada leg pertama semifinal Liga Champions.

Takluk 0-1 dari Olympique Lyon, PSG Masih Puncaki Klasemen


Pemain tengah Olympique Lyon, Jordan Ferri (tengah), dan teman-temannya merayakan kemenangan 1-0 atas Paris Saint-Germain di Stadion Gerland, Lyon, Perancis, Minggu (13/4/2014)


Owetbara.com - Paris Saint-Germain takluk 0-1 dari Olympique Lyon pada laga lanjutan Ligue 1 di Stade de Gerland, Lyon, Perancis, Minggu (13/4/2014) waktu setempat atau Senin (14/4/2014) dini hari WIB. Namun posisi PSG di klasemen tak goyah.

PSG kalah setelah kiper Salvatore Sirigu gagal membendung tembakan Jordan Ferri pada menit ke-31. Ferri dengan kerja keras merebut bola dari kaki Lavezzi, lalu melepaskan tembakan keras yang membuat bola bersarang ke pojok bawah gawang PSG.

Tertinggal, PSG meningkatkan intensitas serangannya. Beberapa kali, bomber andalan PSG, Edinson Cavani, melepaskan ancaman. Namun, kiper Anthony Lopes juga tampil cukup gemilang di bawah mistar Olympique Lyon dengan menggagalkan sejumlah peluang dari tim tamu.

Pelatih PSG, Laurent Blanc, melakukan perubahan pada babak kedua. Ia memasukkan Lucas, Jeremy Menez, dan Adrien Rabiot. Usaha pelatih berkebangsaan Perancis tersebut agar timnya terhindar dari kekalahan akhirnya gagal. Skor 1-0 untuk keunggulan Lyon bertahan hingga laga usai.

Meski begitu, hasil ini tak mengubah posisi PSG di papan klasemen sementara Ligue 1. PSG tetap bertengger di puncak klasemen dengan 79 poin, unggul 10 poin dari AS Monaco yang menempati peringkat kedua.

Susunan Pemain

Lyon:
16-Anthony Lopes; 24-Corentin Tolisso, 5-Milan Bisevac, 4-Bakary Kone (Samuel Umtiti 51), 14-Mauhamadou Dabo (Bedimo 69); 12-Jordan Ferri, 21-Maxime Gonalons, 28-Arnold Mvuemba; 31-Nabil Fekir (Alexandre Lacazette 83); 19-Jimmy Briand, 18-Bafetimbi Gomis
Pelatih: Remy Garde

PSG:
30-Salvatore Sirigu; 23-Gregory van der Wiel, 13-Alex (Adrien Rabiot 79), 2-Thiago Silva, 21-Lucas Digne; 4-Yohan Cabaye, 8-Thiago Motta, 14-Blaise Matuidi (Lucas 59); 27-Javier Pastore, 22-Ezequiel Lavezzi (Jeremy Menez 79); 9-Edinson Cavani
Pelatih: Laurent Blanc

"Cavani Tidak Sama dengan Ibrahimovic"


Striker Paris Saint-Germain (PSG), Edinson Cavani (kiri) dan Zlatan Ibrahimovic (kanan).


Owetbara.com - Bek Paris Saint-Germain (PSG), Christophe Jallet, menganggap peran Zlatan Ibrahimovic tidak bisa digantikan Edinson Cavani. Jallet merasa kehilangan Ibrahimovic yang dianggapnya bisa menjadi penentu kemenangan PSG dalam sebuah pertandingan.
Ibrahimovic absen membela PSG dalam beberapa pekan ke depan karena mengalami cedera. Tanpa Ibrahimovic, PSG mengalami dua kekalahan beruntun, masing-masing dari Chelsea di Liga Champions dan Olympique Lyon di Ligue 1.
Dalam dua pertandingan tersebut, posisi ujung tombak diberikan kepada Cavani. Namun, pemain asal Uruguay itu gagal mencetak gol saat peran Ibrahimovic berikan kepadanya.
"Gaya bermain Edinson Cavani tidak seperti Zlatan Ibrahimovic. Ketika Ibrahimovic bermain, kami lebih sering meraih kemenangan. Mungkin saja (jika bermain), Ibrahimovic bisa mempermalukan David Luiz, yang mengontrol pertandingan untuk Chelsea," jelas Jallet kepada beIN Sport.
"Faktanya, lawan tidak akan bermain dengan cara yang sama jika Ibrahimovic tampil. Apapun yang terjadi, kami kehilangan Ibrahimovic. Bahkan, jika hasil pertandingan tepat sama," ujar Jallet.


Piala Dunia 1978, Antara Aib dan Kebanggaan Argentina

 
Kapten Argentina, Daniel Passarella, memegang trofi Piala Dunia 1978 yang mereka menangkan setelah mengalahkan Belanda 3-1 di final.

Owetbara.com - Hidup tertekan dan terteror. Bahkan, sekitar 15.000 hingga 30.000 orang telah terbunuh atau hilang. Siapa pun yang menentang pemerintah di bawah junta militer Jenderal Jorge Rafael Videla (1976-1981), maka bakal bermasalah atau berakhir hidupnya.

Inilah masa kelam Argentina yang dalam tekanan apa yang disebut Dirty War. Kondisi itulah yang melatari kehadiran Piala Dunia 1978 di Argentina. FIFA sudah memutuskan bahwa Piala Dunia ke-11 digelar di negeri itu pada 1966. Ternyata, perubahan politik begitu cepatnya dan Argentina yang sebelumnya dipimpin Isabel Martinez de Peron yang meneruskan jabatan suaminya, Juan Peron, tiba-tiba dalam kekuasaan junta militer yang kejam.

Gelap dan kelam. Begitu warga Argentina merasakan hidup mereka di bawah junta militer. Gambaran dunia luar terhadap Argentina juga begitu kelam. Maka, sempat muncul pesmisme terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 1978 itu, baik dari dunia luar maupun rakyat Argentina sendiri.

Namun, Videla memanfaatkan event besar ini untuk mengubah citra negerinya dari pandangan luar maupun rakyat sendiri. Ia memerintahkan 10 persen anggaran dasar negara untuk membiayai Piala Dunia 1978. Ia juga meminta pergelaran ini dilakukan sesukses mungkin, dan kalau perlu Argentina juara.

Penyelenggaraan Piala Dunia 1978 memang sukses. Bahkan, Argentina akhirnya juara. Namun, itu tak menghilangkan rasa getir dan kepedihan rakyat Argentina yang merasa tertekan selama pemerintahan Videla.

Piala Dunia 1978 dianggap hanya propaganda junta militer dan sebuah aib sejarah negeri itu. Namun, di sisi lain, ini juga menghadirkan kebanggaan. Sebab, Mario Kempes dkk akhirnya tampil sebagai juara setelah mengalahkan Belanda 3-1 di final. Untuk pertama kalinya, Argentina juara dan mereka sejenak bisa berpesta di bawah kekejaman junta militer.

Maka, Piala Dunia 1978 mengingatkan aib sejarah Argentina, sekaligus menghadirkan kebanggaan. Dan, kesuksesan 35 tahun lalu itu diperingati oleh Argentina di Stadion Monumental, Selasa (25/6/2013) waktu setempat.

Pelatih yang membawa Argentina juara Piala Dunia 1978, Cesar Luis Menotti, ikut angkat bicara.

"Saya kira, kelompok pemain (di Piala Dunia 1978) ini berhak atas pengakuan dunia dan merayakan kemenangan," kata Menotti.

"Saya saat itu sangat menderita, bukan karena saya sendiri, tapi juga karena ada beberapa pemain yang tidak diakui oleh dunia sepak bola karena sepak bola dihubungkan dengan politik," tambahnya.

Menotti sadar betul, Piala Dunia 1978 juga memiliki arti luas bagi rakyat. Meski ini dipakai junta militer untuk propaganda, namun rakyat juga pantas menikmatinya.

"Para pemain ini bermain demi rakyat. Mereka tampil di lapangan dan memberikan segala yang dimiliki. Menggabungkan para pemain dengan diktator, bagi saya merupakan aib. Sebab, tujuan utama kami adalah mencapai final dan itu sangat mengagumkan," kata Menotti yang kini berumur 74 tahun.

Tanggal 25 Juni 1978 itu, Argentina memang tampil di final. Tim Tango dipimpin kapten Daniel Passarella. Mereka tim yang tak begitu dikenal dunia. Namun, setelah juara, maka nama-nama mereka kemudian menjadi mendunia. Selain Passarella, juga Ubaldo Fillol (kiper), Alberto Tarantini (bek), Americo Gallego dan Ricardo Villa (gelandang), Leopoldo Luque, Daniel Bertoni, Mario Kempes (penyerang), juga Osvaldo Ardiles (gelandang).

Prestasi jadi tonggak sejarah sepak bola Argentina. Ini kehormatan besar buat Argentina. Sebuah anugerah besar bagi rakyat di tengah ketertekanan. Kehormatan dan kebanggaan menjadi kenangan indah. Aib sejarah politik biarlah menjadi pelajaran agar tak terulang.

Toh, setelah itu, Argentina tak lagi menangis. lewat sepak bola, mereka sering bisa lepas tertawa. Apalagi, pada 1986 muncul bintang Diego Maradona yang membawa mereka kembali juara Piala Dunia. Dan, kini mereka memiliki Lionel Messi yang membawa citra indah Argentina, setidaknya sepak bolanya.


sumber

Robben, "From Zero to Hero"


Ekspresi gelandang sayap Bayern Muenche, Arjen Robben, setelah memastikan klubnya juara Liga Champions 2013. Bayern sukses mengalahkan Borussia Dortmund di Stadion Wembley, London, Sabtu atau Minggu (26/5/2013) dini hari WIB.


Owetbara.com — Penantian gelar kelima Liga Champions untuk Bayern Muenchen dipastikan oleh satu aktor protagonis. Sosok yang dalam dua kesempatan final sebelumnya kerap dianggap sebagai salah satu faktor kegagalan Bayern. Ya, Arjen Robben merupakan sosok tersebut.

Kecepatan Robben menyambar umpan tumit Franck Ribery pada menit ke-89 dan diselesaikan sontekan pelan nan manis membawa kebahagiaan bagi fans Bayern di seluruh dunia. Gol tersebut menandakan hasil akhir 2-1 untuk kemenangan Bayern atas Borussia Dortmund di Stadion Wembley, London, Sabtu atau Minggu (26/5/2013) dini hari WIB.

Selebrasi Robben tumpah. Melihat bola masuk, pemain didikan sepak bola FC Groningen itu berlari dengan ekspresi wajah penuh sukacita. Kepuasan. Kira-kira itulah arti yang terpancar dari wajahnya.

Menilik final Liga Champions tiga tahun silam. Robben tampil seakan seadanya. Melawan Inter Milan, Bayern tak mampu mengembangkan permainan. Pergerakan Robben dimatikan dengan mudah oleh Cristian Chivu atau pun Esteban Cambiasso. Bayern gagal menjadi juara kala itu.

Dua tahun kemudian atau setahun lalu, partai final Robben kembali suram. Bahkan, lebih menyakitkan bagi Robben. Saat masa perpanjangan waktu, Bayern yang bermain di kandang sendiri melawan Chelsea, mendapat hadiah penalti. Robben maju sebagai eksekutor. Namun, tembakannya bisa dengan mudah dibaca kiper Chelsea, Petr Cech.

Mungkin saja, jika penalti Robben berbuah hasil, Bayern bisa keluar sebagai juara. Setelah kegagalan penalti itu, Chelsea bangkit dan pada akhirnya mampu mengangkat trofi "Si Kuping Besar" di markas kesayangan fans Bayern, Allianz Arena.

Tepat hari ini, Robben hampir kembali menjadi pecundang. Pada 45 menit awal pertandingan, Robben mendapat dua peluang emas mencetak gol. Kedua upaya tersebut gagal karena aksi heroik kiper Roman Weidenfeller. Saat jeda, Opta menyimpulkan, Robben melakukan 25 tembakan selama final Liga Champions, tetapi tak satu pun yang berhasil masuk ke gawang.

Entah apa yang terjadi di ruang ganti tim Bayern saat istirahat, yang pasti Robben mampu bangkit pada babak kedua. Satu assist kepada Mario Mandzukic dan satu gol penentu kemenangan menjadi pembuktian Robben.

Robben memang pantas berbangga. Bahkan, ketika wasit meniupkan peluit tanda berakhirnya pertandingan, Robben meneteskan air mata. Rekan-rekan dekatnya seperti Thomas Mueller dan Franck Ribery memeluk sang pahlawan. Sebuah bukti Robben tampil di Stadion Wembley, 25 Mei 2013, dengan mengusung semangat "from zero to hero". Robben, pahlawan Bayern.